
“Siapa yang belajar, dialah yang menang.”
Saya mendengar pepatah ini dari seseorang semasa saya bersekolah di sekolah atas. Sebuah kalimat yang singkat, tetapi bila dijabarkan akan menjadi sebuah tulisan panjang.
Belajar tidak melulu mempelajari ilmu pelajaran dalam buku cetak atau tertulis tangan. Belajar dari pengalaman adalah salah satu dari memahami fungsi lain dari belajar.
“Pengalaman adalah guru yang paling berharga.”
Pengalaman tentu saja adalah peristiwa yang pernah dialami. Dengan kata lain, pengalaman adalah peristiwa yang sudah terjadi di masa lalu.
Kita dapat belajar dari pengalaman. Namun, sepatutnya kita harus bisa belajar dari pengalaman.
Waktu pastinya terus berjalan. Apapun yang pernah terjadi dahulu, tak pernah bisa diulang kembali. Namun, tanpa kita sadari pola yang sama sejatinya terus berulang. Sehingga mestinya kita dapat mengenali cirinya dengan peristiwa apa yang dulu pernah terjadi.
Pengalaman yang terjadi di masa lalu, membuat kita dapat menganalis keseluruhan peristiwa tersebut. Dari analisis itu, kita lebih siap jika pola yang sama terulang kembali. Apakah kita harus mengikuti pola seperti yang dahulu ataukah kita ubah agar bisa lebih baik.
Lingkup pengalaman tidak hanya dari yang pernah kita alami. Kitapun bisa belajar dari pengalaman orang lain ataupun hal lain.
Pengalaman seperti saat orang lain naik kendaraan umum, bepergian ke luar negeri, atau bahkan pengalaman bangsa lain menghadapi bencana alam, kondisi geologis, dan lain sebagainya, dapat kita pelajari secara rinci. Sehingga, kita punya peluang untuk bisa melakukan yang sama atau lebih baik.
Belajar seperti inilah yang seharusnya sering kita lakukan. Dengan belajar dari pengalaman, membuat kita melakukan introspeksi diri. Kita mengoreksi dan mengingat kembali apa yang pernah kita lakukan. Sehingga, ke depannya kita pasti siap menghadapi peristiwa dengan pola yang sama dengan pengalaman yang dulu pernah terjadi di masa lalu.
